Mahapatih Indonesia 8

AYO KURSUS KREATIF & Memeperbaiki Indonesia!

Featured Posts

AYO KURSUS KREATIF

alt/text gambar

Latest Posts

Sunday, 2 April 2017

Tips : PILIH DSLR VS MIRRORLESS – Dari Sisi Digital Filmmaker



Terus terang sejak awal kamera SLR berrevolusi menjadi DSLR saya fikir ini sudah tuntas dan tidak akan ada lagi jenis kamera yang akan mengungguli jenis kamera DSLR. Ternyata pendapat saya keliru, padahal saya adalah salah satu orang yang berusaha untuk tidak ketinggalan teknologi gadget (gawai) setiap saat. Munculnya kamera jenis mirrorless sebenaranya sudah lama tepatnya tahun 2008, namun karena harganya saat itu cukup mahal maka pengguna DSLR tidak goyah pada jalan pilihannya. Hari ini ternyata prekembangannya justru berbalik banyak jenis kamera mirrorless yang harganya relatif terjangkau. Saya anggap terjangkau bahkan menurut saya murah, ini berkaitan dengan fasilitas fitur kamera yang diberikan.

Berulang kali saya melakukan riset kecil melalui obrolan dengan rekan yang sama-sama bergelut di bidang Seni Audio Visual, membaca literasi, melihat dan menonton video reviu di YouTube dan video lainnya. Sudah itu, saya beruntung selalu mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan bahkan melakukan penggarapan video production yang saya tarik ke sistem digital filmmaking. Mengingat peralatan yang saya gunakan adalah kamera DSLR dan Mirrorless.


Berawal dari Canon 60D, 70D, 80D untuk kalangan digital filmmakers saat itu hasil visual yang diperoleh luar biasa takjub, karena gambar sangat sinematik. (Baca: Bagaimana Mencipta Gambar Cinematic) Pengguna Canon 60D, 70D, 80D kebanyakan tentu mereka yang berbajet rendah dan sedang, itu semua bergantung dari pelengkap alat yang digunakan. Berbeda dengan mereka pengguna 5D mark II sekarang sudah 5D mark IV, soal kamera DSLR Canon luar biasa cepat beradaptasinya. Bahkan kamera 5D Mark IV ini telah memiliki resolusi gambar 4K (4096 x 2160) pilihan inilah yang kemudian banyak para videomaker dan atau filmmaker menggunakan kamera ini. Beberapa bahkan untuk produksi commercial (iklan komersil).

Commercial Canon 5D Mark IV

Bagi saya seorang filmmaker jelas yang kita perlukan pada saat akan membuat karya visual adalah kekuatan kamera dalam merekam hal-hal sulit seperti misalnya: lokasi dengan pencahayaan rendah, medan berat, cuaca buruk, equipment minim, mobilitas cepat dan tinggi, dan lain sebagainya. Faktor inilah yang menjadi pertimbangan saya.

Catatan penting saya soal kamera mirrorless adalah :
  • Lebih ringkas dan ringan. Keuntungannya adalah kamu bisa membawa lebih banyak lensa tanpa merasa keberatan. Biasanya kalau membawa satu set sistem DSLR, tas saya kurang lebih beratnya 5kg. Tapi dengan mirrorless, total beratnya di bawah 3kg kecuali kalau membawa cinema lens pasti lebih berat. Dan akan cukup terasa saat jalan-jalan jauh dan naik gunung.
  • Ini yang paling penting mempunyai IS 5-axis, kamera mirrorless bekerja dengan cara menggerakan image sensor sesuai arah gerakan pada sumbu x dan y, gerakan pitch (seperti  gerakan mengangguk), yaw (seperti gerakan menggeleng) dan rolling (seperti  gerakan lensa memutar). Dan ini bisa menggantikan fungsi tripod karena tergantikan dengan adanya teknologi image stabilizer (IS) 5-axis di body kamera.

Sony a7 sII dengan 5 Axis

Commercial olympus omd em10 mark ii

  • Sistem mirrorless mengandalkan live view dan jendela bidik elektronik, ini adopsi dari smartphone sebenarnya. Kita bisa lihat dengan jelas apa fokus dan tidak, juga bisa melihat terang gelap/exposure, histogram, warna, efek khusus dengan jelas. Apa yang dilihat adalah apa yang akan didapatkan. Tidak ada tebak-tebakan dan terkejut seperti di kamera DSLR.
  • Adaptabilitas kamera mirrorless tinggi, karena kita bisa menggunakan lensa lama atau lensa yang bukan semerek dengan adaptor. Untuk manual fokusnya lebih canggih dari kamera DSLR karena banyak kamera mirrorless punya fitur focus peaking.
  • Bisa autofokus ke area mana saja, termasuk ke daerah tepi-tepi frame foto dengan mudah. Di kamera DSLR titik-titik fokusnya biasanya ngumpul di tengah. Kecepatan autofokus kamera mirrorless generasi tahun 2014 juga sudah cepat. Bekerja sangat baik pada low light (cahaya minim/rendah)
Sony a7 sII dengan Low Light

Apa kelebihan dari kamera DSLR ?
Perlu dibahas engga ya, rasanya kamu lebih pintar dari saya. Lagi pula kamera DSLR sudah berkembang cukup lama dan berbagai uji coba juga sudah banyak dilakukan oleh mereka para filmmaker. Yang jelas untuk saat ini kamera DSLR masih bisa diandalkan, mengingat harga yang cukup terjangkau. Hal lainnya ini adalah soal kebiasaan dan persepsi, biasanya klien yang belum terbiasa atau bahkan tidak pernah melihat kamera mirrorless akan meremehkan kemampuan kamera kecil mirrorless. Sebagian orang mengatakan kamera itu harus besar, kalau engga besar berarti itu kamera-kameraan. Padahal teknologi hari ini sudah meringkas dan mengefektifkan pengguna gadget dengan peralatan minim kecil namun kaya fitur, mudah, dan hasil “wah” atau “wow”.

Movie digarap dengan camera 60D

Baiklah ini ulasan singkat tentang kamera DSLR 
  • Jendela bidik optik lebih efektif (jernih, tidak silau, tidak makan daya baterai) saat mengambil gambar di kondisi yang sangat terang maupun gelap. Pegangan yang lebih besar dan dalam lebih mantap saat dipegang, terutama saat mengunakan lensa telefoto zoom. Meskipun kamera mirrorless saat ini menyediakan berbagai aksesoris seperti battery grip atau leathercase yang menurut saya cukup membantu. Tetep ya belain mirrorless, hehehe...
  • Tombol-tombol dan tuas kamera DSLR biasanya lebih besar dan mudah ditemukan dan ditekan. Ini soal kebiasaan saja.
  • Kapasitas baterai lebih tinggi. Satu baterai kamera DSLR yang di charge full biasanya cukup untuk satu hari jalan-jalan, sedangkan perlu sekitar 2-3 baterai untuk kamera mirrorless.
  • Berat kamera kadang dapat membantu, terutama saat kamera di tripod dan angin cukup kencang. Kamera DSLR yang bobotnya lebih berat inersianya lebih tinggi sehingga tahan tiupan angin. Ini kelemahan sekaligus kekalahan telak dari DSLR, karena tidak memiliki teknologi IS apalagi sampai 5 axis.
  • Untuk pekerjaan, persepsi klien ke kamu sebagi videomaker/filmmaker lebih baik. Para videomaker/filmmaker yang mengunakan mirrorless belum dianggap serius. Ini sudah saya bahas.

Akhirnya bagaimana? Apakah kamu masih tetap menjatuhkan pilihan pada kamera DSLR atau berpaling ke lain hati. Semua keputusan ada di tangan kamu, silahkan pertimbangkan lebih masak lagi. Hihiihiii.. Seru ya..

Disarikan dari berbagai sumber literasi teks, audio, dan visual.

Oleh : Anton Mabruri (Praktisi Broadcast tv, Filmmaker dan Penulis)

Broadcast Film LITERASI MEDIA TIPS&TRIK VIDEO

Friday, 3 March 2017

BUKU BRODCAST TELEVISI


Sudah berapa banyak stasiun televisi hari in berdiri dan mengudara dengan berbagai konten program acara televisi setiap hari diproduksi untuk memenuhi pemirsanya. Berbagai macam program acara dikemas dalam berbagai bentuk, di antaranya: film, dokumenter, sinetron, reality show, variety show, talk show, komedi situasi (sitcom), dan lain-lain yang tentunya menghibur, informatif, mendidik, serta unik dan menarik. Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana kita bisa masuk dalam industri penyiaran tersebut? Jawaban paling utama adalah: KOMPETENSI.

Keempat judul buku di bawah ini, hadir untuk memenuhi para penggiat broadcast televisi dan multimedia, buku tersebut adalah:

1. Panduan Penulisan Naskah TV Format Acara Drama.

2. Panduan Penulisan Naskah TV Format Acara Nondrama, News & Sport.

3. Manajemen Produksi Peogram Acara TV Format Drama.

4. Manajemen Produksi Peogram Acara TV Format Nondrama, News & Sport.

Buku tersebut berisi langkah-langkah yang detail dan terperinci, sehingga cocok sebagai pegangan untuk semua kalangan. Buku ini akan sangat membantu Anda untuk belajar melakukan tugas sebagai PENULIS PROGRAM ACARA TELEVISI dan MEMBANTU MEMANAJAMEN PRODUKSI PROGRAM ACARA TELEVISI. Selain itu buku tersebut tidak hanya membahas dua hal tersebut di atas, namun berbagai profesi yang ada dalam stasiun televisi dibahas tuntas.


Buku tersebut ditulis oleh Anton Mabruri KN adalah Ketua AGBI (Asosiasi Guru Broadcast Indonesia) sekligus seorang praktisi broadcast tv, filmmaker dan penyusun kurikulum broadcast tv dan radio untuk SMK Broadcast. Buku tersebut diterbitkan oleh Grasindo 2013. Yuuk... segera miliki buku tersebut, telah tersedia di seluruh Toko Buku Gramedia Indonesia atau hubungi Pak SUHARDONO | 0857 8497 8195 Dept. Gramedia Publishers Marketing & Distribution Kompas Gramedia Building | Jl. Palmerah Barat No.29 - 37 | 10270 Jakarta Pusat, Indonesia | T :021 5365 0110 Ext: 3856 | F :021 5493 073

DAPATKAN BUKU YANG LAIN : Buku Teori Dasar Editing Program Acara Televisi & Film (NEW)

OFFICE :
Mind 8 Publishing House
Ruko Tran Depok Cyber Village No. 26
Jl. Kalimulya Depok Jawa Barat (500M dari GDC - Grand Depok City/Kota Kembang)
Telpon 021 2950 2660 [Contact WA 0878 8997 8001]
e mail : mind8prod@gmail.com
web : www.mind8production.com
Follow me @mindpro
Like FB Mind 8 corporation
Broadcast BUKU Film LITERASI MEDIA smk VIDEO

Friday, 24 February 2017

Serba-serbi Kursus: Bingung pilih kelas dan Apa beda kelas Privat dengan kelas X-tra


BEGINNER itu apa sih?
Adalah kelas kursus dengan jumlah jam 20 kali tatap muka, dengan lama waktu per tatap muka 45 menit s.d 50 menit. Program ini memberikan pemahaman pada tingkat Dasar s.d keahlian Madya. Kamu diajarkan tahapan-tahapan tingkat dasar dari kursus yang kamu ambil sampai kamu tahu dan bekerja sendiri.

Lalu kalau INTERMEDIATE itu apa?
Adalah kelas kursus dengan jumlah jam 30 kali tatap muka, dengan lama waktu per tatap muka 45 menit s.d 50 menit. Program ini memberikan pemahaman pada tingkat Dasar s.d Tingkat Mahir. Peserta diajarkan tahapan-tahapan dan jenis-jenis [kompleksitas] berupa produksi program acara tv dengan menghasilkan karya pilihan peserta diklat. Menyiapkan tenaga siap berkarya cipta (kerja) menjadi yang kamu inginkan.

Saya belum bisa sama sekali dan tidak tahu sama sekali tentang [Broadcast tv, Film, Design Grafis, dan Multimedia *pililh salah satu] Sebaiknya saya ambil kelas beginner atau langsung intermediate?
Yang membedakan kelas Beginner dan Intermediate adalah jumlah jam pertemuan saja, kamu yang tidak bisa atau sudah bisa tetap akan diajari dasar-dasarnya. Nah.. jika intermediate itu sampai mahir tapi kalau untuk Beginner itu hanya sampai kemampuan madya (sedang).

Kelas privat dan kelas x-tra apa bedanya?
Persamaan kelas privat dan kelas x-tra, adalah hari pertemuan/tatap muka bisa kamu yang menentukan sendiri. Perbedaannya, di kelas private ditempuh waktu reguler dengan jumlah jam tergantung dari level yang diambil. Misalkan kamu ambil kursus privat beginner, jumlah jam pertemuan 20 kali pertemuan seminggu 2 kali lama waktu 2 bulan. Sedangkan kelas x-tra adalah kelas akslerasi dengan waktu dengan tatap muka setiap hari selama maksimal 20 hari berlaku untuk level beginner dan intermediate. Kelas x-tra lebih banyak diambil oleh mereka peserta kursus dari luar kota.

Info Pendaftaran:
Mind 8 Course
Ruko Tran Depok Cyber Village No. 26
Jl. Kalimulya Depok Jawa Barat (500M dari GDC - Grand Depok City atau 1,5 Km dari Kantor Walikota Depok)
Telpon 021 2950 2660
[Contact & WA: 0878 8997 8001]
e mail : mind8course@gmail.com
web : www.mind8production.com
Follow me @mindpro
Like FB Mind 8 corporation

KURSUS

PERALATAN BROADCAST TV - PROFESSIONAL EQUIPMENT


Peralatan jenis ini lebih banyak digunakan di industri broadcast tv profesional dan Production House (rumah produksi). Produksi yang mereka garap tentu untuk memenuhi industri broadcasting televisi, kamu bisa bayangkan siaran televisi itu bekerja tanpa henti. Apa jadinya jika alat yang digunakan tidak memenuhi standar profesional, yang ada malah bisa mati tiba-tiba pada saat melakukan produksi konten siaran tv dan siaran pun terganggu.

Maka, jenis peralatan ini dirancang khusus untuk kebutuhan produksi dengan intensitas yang tinggi dengan tingkat pemakaian yang berat dan berkualitas tinggi dari semua aspek komponen termasuk lensa. Mempunyai ciri-ciri :
1. Pengguna sebagian besar para professional broadcast indutri besar di dunia pertelevisian dan PH
2. Fitur yang tersedia bisa dibilang ful manual karena hampir sebagian besar menggunakan setting-setting manual meskipun memiliki masih fitur auto, tetapi jika ingin menghasilkan gambar dan visual yang bagus menggunakan setting manual
3. Harga relatif lebih mahal bahkan sangat mahal
4. Memiliki standar penggunaan yang tinggi, HDV resolution bahkan sudah UHD (4K) dengan warna yang stabil tidak cacat atau distorsi.
5. Sangat stabil dan handal.
6. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal peralatan yang lain pun harus seimbang, misalnya pada saat post-production. Mesin editing yang digunakan harus benar-benar compatible.
7. Cukup kuat dan tahan segala kondisi seperti getaran, gundukan, goncangan, debu, panas, dan hujan. Sangat mumpuni bila digunakan dalam kondisi apa pun.



Jadi apa benar, hanya peralatan jenis professional saja yang boleh produksi konten televisi?
Di awal, sudah saya jelaskan bahwa konten siaran televisi kita bahkan telah banyak mengalami perubahan, kalau boleh saya sebut sudah terjadi revolusi televisi. Hal ini karena pemenuhan konten televisi yang luar biasa banyak dan rutinitas yang tinggi, maka banyak pula stasiun televisi yang menggarap konten dengan peralatan prosumer dan consumer.


Sudah saatnya, bagi siapa saja yang ingin belajar broadcast televisi silahkan saja dan bebas-bebas saja dalam menggunakan alat yang ada hari ini. Sebagai saran sebaiknya Lembaga Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan diberlakukan grade/tingkatan bagi mahasiswa/i atau siswa/i, dari peralatan standar consumer, prosumer hingga professional. Agar pencapaian lebih maksimal.


Di mana menemukan peralatan jenis professional ini?
Datang ke stasiun televisi swasta nasioal yang rata-rata memang berpusat di Jakarta, atau kamu datang ke PH yang sudah memenuhi produksi konten tv sawasta nasional. Di Indonesia sebenarnya ada Lembaga Siaran Publik milik pemerintah seperti TVRI, tapi saya juga ragu mereka sudah menggunakan alat standar profesional HDTV, kamu bisa datang ke tempat tersebut yang saya maksud.

Broadcast LITERASI MEDIA TIPS&TRIK VIDEO

Thursday, 23 February 2017

NEWS : Ajak SMK Prioritaskan Konten Televisi

KOTA BATU – Pusat Teknologi Informasi dan Komukasi Pendidikan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengajak SMK Broadcast se-Indonesia untuk meningkatkan mutu konten penyiaran televisi. Dalam mempersiapkan itu, sekitar 14 perwakilan SMK broadcast se-Indonesia mendapat pelatihan keterampilan melalui program On Action di Amarta Hills Hotel dan Resort, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Rabu (21/12).

Ketua pelaksana sekaligus Ketua Asosiasi Guru Broadcasting Indonesia (AGBI) Anton Mabruri menyatakan, program On Action digelar empat hari, 20–23 Desember. Menurutnya, selama ini keberadaan SMK Broadcast terlalu fokus pada keterampilan teknis. Padahal, katanya, esensi broadcast atau penyiaran, juga bersinggungan dengan konten atau isi penyiaran.

On Action dibagi dalam tiga konten, yakni On Sejarah, On Wisata, dan On Kehidupan. ”Salah satu contoh dalam On Sejarah yang mengangkat sejarah tingkat desa,” ujar Anton dalam sambutannya.

”Jarang loh televisi mengangkat sejarah desa-desa. Padahal, ada ribuan desa di Indonesia,” tambahnya.

Kabid PTP Berbasis RTF Pustekkom Sri Hargyanto Suryo Prayudo menambahkan, Kota Batu dipilih sebagai tempat berkumpul mematangkan konsep, bukan tanpa dasar. Itu karena Batu baru berdiri tapi perkembangannya signifikan.

”Kota Batu menyimpan keunggulan luar biasa, baik wisata maupun budayanya. Besar harapan kami ada ide besar yang lahir di sini,” beber dia.

Dalam program kali ini, lanjut dia, Pustekkom hanya sebagai fasilitator. Dia mencontohkan keberadaan TV Edukasi milik Pustekkom yang bisa dimanfaatkan SMK Broadcast dalam berkeksplorasi. ”Ide dan gagasan tayangan edukasi bisa diproduksi di sini (TV Edukasi Pustekkom),” katanya.

Acara itu dihadiri Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Sedikitnya ada 14 perwakilan SMK Broadcast se-Indonesia. Di antaranya SMKN 3 Batu, SMK Cempaka Nusantara Depok, SMKN 1 Cimahi, SMK Cakra Nenggala Brebes, SMKN 1 Bondowoso, SMKN 1 Bengkulu, SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, SMKN 1 Solok, SMKN 1 Gorontalo, SMKN 7 Surakarta, SMKN 1 Klaten, dan SMK Motivasi Insani Bogor. (zal/c4/dan)


Sumber : www.radarmalang.co.id http://radarmalang.co.id/ajak-smk-prioritaskan-konten-televisi-58686.htm
edukasi smk

PERALATAN BROADCAST TV - PROSUMER EQUIPMENT


Peralatan prosumer, kadang dikenal sebagai peralatan industri rumahan (video production) dan sebagian kecil untuk broadcast tv. Juga digunakan untuk produksi yang sedikit lebih berat, dan kadang-kadang memberikan beberapa fitur profesional (seperti lensa kamera dapat diganti dengan lensa film), tetapi masih memiliki banyak fitur otomatis seperti yang terdapat peralatan consumer. Karena sifatnya kombinasi portabilitas dan kualitas, maka jenis ini lebih rendah harganya dibandingkan peralatan professional. Sehingga memungkinkan para professional pun kadang menggunakan alat ini dengan menambah berbagai kombinasi alat yang lain seperti penggunaan lensa, filter, dan lain-lain. Prosumer Equipment mempunyai ciri-ciri:
1. Pengguna adalah home industri atau mendekati professional
2. Fitur yang tersedia sudah memiliki fitur manual tetapi tidak full (campuran automatic dan manual)
3. Harga agak lebih mahal dari jenis Consumer
4. Tidak tahan banting tetapi tidak ringkih (mudah rusak)
5. Mempunyai resolusi gambar yang cenderung lebih baik dari kelas Cosumer sudah HD-HDTV (High Definition Television), meskipun beberapa ada yang sudah memiliki resolusi 2K dan 4K tetapi harganya cukup mahal.



Siapa pengguna alat broadcast tv jenis prosumer?
Alat ini banyak digunakan oleh mereka yang menggeluti dunia video production. Dengan intensitas penggarapan video untuk dokumentasi pernikahan, profil perusahaan, profil individu, dan dokumentasi lainnya. Walaupun pada kenyataannya banyak juga stasiun televisi yang juga menggunakan jenis alat standar ini, tidak masalah sepanjang penyajiannya sesuai kaidah broadcast televisi profesional. Maksdunya adalah standar pengambilan gambar, gaya bertutur, tampilan grafis, grading colour, dan lainnya sudah memenuhi QC televisi.


Selain harganya sedang tidak terlalu mahal juga tidak murahan, pertimbangan inilah memungkinkan para lembaga pendidikan seperti Kampus Vokasi dan Sekolah Menengah Kejuruan lebih banyak menggunakan peralatan berstandar prosumer.


Televisi lokal di daerah pun sudah banyak yang menggunakan peralatan standar prosumer, mereka beralasan selain harganya tidak mahal juga menyediakan fitur otomatis dan fitur manual yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk menghasilkan kualitas gambar sekelas profesional. Untuk memindahkan/menginstal dari otomatis ke manual biasanya membutuhkan peralatan pelengkap, semisal pada saat akan menambah lensa tentu biasanya dipasang converter agar kompatibel.

Oleh : Anton Mabruri – Praktisi Broadcast, Filmmaker, dan Penulis 
Like Me Anton Mabruri KN 
Follow Me Anton Mabruri KN
Broadcast TIPS&TRIK VIDEO

Wednesday, 22 February 2017

APA PERBEDAAN INTERLACED DAN PROGRESSIVE DALAM VIDEO (JANGAN DISEPELEKAN!)


Ketika kamu membuat new project atau new sequence di software editing, ada satu parameter yang harus ditentukan, yaitu Field Dominance. Begitu pun ketika menggunakan software konverter. (Di software editing, kamu bisa melihatnya dengan meng-klik-kanan sequence, lalu pilih settings)

field dominance setting
Pentingkah pengaturan ini? Penting banget! (terutama bagi kamu yang mengerjakan program-program TV). Field Dominance ini akan berpengaruh pada cara monitor menampilkan video.

Coba perhatikan gambar berikut!


Kamu lihat gambar yang bergetar? Itulah yang terjadi kalau kamu salah memilih Field Dominance.
Field Dominance ini merujuk pada dua cara monitor menampilkan video, yaitu interlace dan progressive.

Banyak sekali yang tidak paham soal ini. Akibatnya banyak tayangan (TV) yang bergetar, gerakan objek tidak mulus, seakan berbayang. Ada juga yang sok tahu.. “ah gue mah selalu setting progressive, karena progressive lebih bagus”. Tidak sesimpel itu Guys! Karena interlaced dan progressive bukan soal selera. Tapi ada latar belakang teknis di belakangnya.

Perlu diingat ada dua standar format Full HD: 1080i dan 1080p. Huruf i dan p di sana pun mewakili dua mode itu, interlaced atau progressive. Karena itu, di artikel ini kita coba gali lebih dalam.

Kembali Ke Frame Rate
Untuk memahami dari mana munculnya interlaced dan progressive, kamu harus mengerti dulu seluk beluk frame rate. Frame rate adalah banyaknya gambar yang diputar dalam satu detik. Biasanya diukur dalam fps (frame per second). Teori ini sering disebut ilusi gambar bergerak, gambar berganti setiap sepersekian detik sehingga otak manusia mempersepsikannya sebagai gambar bergerak, bukan sebagai deretan foto. Maka aturannya sederhana, semakin tinggi frame rate, semakin realistis gerakan objek dalam video atau real time.

frame rate horse


Sebagai sebagai gambaran logika seperti ini, bila terdapat gambar tertulis angka 16 fps, itu artinya dalam 1 detik terdapat 16 gambar. Gambar itu sudah cukup untuk menipu otak, sehingga kita mempersepsikan gerakan (perception of motion). Maka pada saat itu digunakanlah standar 24 fps, walau pun sekarang juga masih digunakan. Tapi ada masalah yang muncul ketika itu, yaitu gambar  flickerFlicker itu seperti gambar di bawah ini. Seperti cahaya berkedip-kedip namun kanan kiri terdapat bayangan hitam seperti membentuk shadow dan terus berkedip-kedip.

flicker

Logikanya sederhana..
Proyektor menyinari film (seluloid) untuk menampilkan gambar ke layar. Yang mungkin kamu gak sadar adalah.. sebetulnya cahaya dari proyektor itu tidak terus menerus menyinari film. Tapi ada jeda di mana cahaya itu di-blokir ketika frame diganti. Itu diperlukan supaya pergantian frame tidak terlihat ‘ngeblur’. Itulah yang menimbulkan flicker. Karena cahayanya ‘putus-putus’.


Maka Thomas Edison sebagai penemu mekanik proyektor film ketika itu membuat perhitungan bahwa frame rate harus lah 46 fps atau lebih supaya flicker ini tidak terlihat. Masalahnya, saat itu berarti membutuhkan gambar atau film-strip yang lebih banyak. Ujung-ujungnya balik lagi ke biaya. Biayanya mahal. Tapi ada yang berfikiran jenius! Tidak perlu menambah frame. Cukup menjalankannya dua atau tiga kali setiap frame.

Artinya.. kalau menggunakan shutter blade ganda (perhatikan animasi di bawah), maka 24 fps akan tampak seperti 48 fps dan flicker tidak akan terlihat. Simpel bukan!?

simplex-e-7-single-shutter-animation-second

Lalu Bagaimana Dengan Broadcast TV?
Televisi pun sama, harus memutar frame rate yang cukup agar flicker tidak terlihat. Flicker di TV terjadi karena monitor pun harus me-refresh setiap gambar di layar (diukur dalam refresh rate). Dari sinilah muncul teknik interlaced dalam TV.

Apa Itu Interlaced?
Supaya lebih paham, kita harus kembali ke jaman TV tabung (CRT). Gambar yang terbentuk di TV tabung dijalankan dengan cara menembakkan elektron ke layar. Ketika elektron itu menyentuh layar, maka sebuah titik di layar akan bercahaya (dalam LCD disebut piksel). Si penembak elektron (sinar katoda) itu harus menyusun setiap titik di layar sampai penuh dari kiri ke kanan di setiap barisnya sampai penuh. Dan itu harus dilakukan setiap frame. Proses ini disebut scanning.


Dalam standar PAL (Phase Alternating Lines), dia harus menyelesaikan 625 baris setiap frame.

Masalahnya.. proses ini dibatasi oleh bandwidth (lebar pita frekuensi), di mana gambar ditransmisikan melalui gelombang radio (UHF) yang pada akhirnya mengendalikan arus listrik di dalam TV. Akibatnya proses scanning pun terbatas. Frame rate tidak bisa terlalu tinggi karena bandwidth membatasinya. Sementara itu dia harus menghindari flicker. (Ingat hukum Thomas Edison bahwa flicker bisa dihindari kalau frame rate di atas 46 fps).

Maka ditemukanlah teknik interlaced. Yaitu membagi frame menjadi dua baris: baris ganjil dan baris genap. Pertama, si penembak elektron akan menyelesaikan baris 1, 3, 5, dst sampai baris ganjil terbawah. Kemudian dia kembali ke atas untuk mengisi baris 2, 4, 6, dst sampai baris genap terbawah.

Dengan teknik ini, seolah-olah frame rate jadi dua kalinya (karena di jalankan dua tahap) dan flicker tidak tampak lagi. Karena itu 25 fps dalam mode interlaced disebut 50i, karena 2 x 25 fps (i=interlaced).



Dampak Interlaced Terhadap Monitor Digital
Dari uraian di atas harusnya kamu sudah paham bahwa interlaced hanya berlaku di TV. Karena kendala bandwitdh dan flicker tadi. Makanya mode interlaced ini tidak akan berjalan normal kalau diputar di monitor komputer. Karena monitor komputer (dan layar-layar digital lainnya) bekerja secara progressive. Dia tidak mengenal interlace. Progressive membentuk gambar dengan cara normal, yaitu menyusunnya secara berurut. Karena itu.. kalau kamu memutar video ber-interlaced di monitor komputer, maka akan tampak bergaris.


Sekarang kamu bisa menjawab: Mana yang lebih bagus kualitasnya, interlaced dan progressive?
Jawabannya adalah tergantung kamu mau menayangkannya di mana. Kalau di monitor komputer, HP, internet, LED (dengan mencolok flashdisk) kamu harus pilih progressive. Tapi kalau video itu harus kamu kirim ke stasiun televisi untuk dibroadcast, pilihlah interlaced.

Persoalan ini harus dipahami karena masih banyak yang salah kaprah. Orang TV yang tidak paham teknis menganggap bahwa interlaced itu jelek karena tampak berbayang (bergaris). Kalau dia melihatnya di layar komputer, ya iya pasti bergaris. Video itu kan untuk TV, maka lihatlah hasilnya di monitor TV.

Upper dan Lower Dalam Software Editing
Dalam software editing, kalau kamu memperhatikan sequence setting, kamu disuruh menentukan Field Dominance. Yang terdiri dari tiga pilihan:

  1. Upper
  2. Lower
  3. None

Kalau kamu memilih upper atau lower, itu artinya video yang dihasilkan akan ada dalam mode interlaced. Sedangkan none artinya progressive. Upper tidak lain adalah baris ganjil. Sedangkan lower adalah baris genap.

fcp field dominance
Apa maksudnya field dominance? Dan mana yang harus dipilih antara upper dan lower? (yang gak mau pusing sebaiknya lewat bagian ini)

Sebenarnya dalam mode interlaced tidak dikenal istilah frame. Yang ada adalah field. Field yang dimaksud baris ganjil dan baris genap, atau upper dan lower. Jangan salah paham.. kedua field ini tidak dihasilkan dengan memecah satu gambar yang sama jadi dua! Tapi dihasilkan dari dua gambar yang berbeda. Field upper diambil dari gambar yang satu tapi diambil baris genapnya, sedangkan field lower diambil dari gambar berikutnya, tapi diambil baris ganjilnya. Ilustrasinya seperti ini..

Field dominance
Ilustrasi di atas mungkin akan membuat pertanyaan: gambarnya jadi aneh dong? Tidak! Karena ke dua field ini tidak berjalan secara simultan. Tapi berjalan selang seling: upper, lower, upper, lower, dst secara cepat. Sehingga akan tampak normal (kecuali di montior progressive).


Yang menjadi masalah adalah field satu itu upper atau lower. Kalau field 1 adalah upper, berarti field 2 adalah lower. Kalau field 1 adalah lower, berarti field 2 adalah upper. Inilah yang dimaksud field dominance.

Kalau menggunakan source progressive (misalnya dari DSLR atau Mirrorless), tidak jadi masalah memilih upper atau lower di sequence setting. Yang sering menimbulkan masalah adalah yang source-nya sudah ber-interlaced (misalnya hasil capture dari miniDV atau DV Cam).

Field dominance di source dan sequence harus sama. Kalau tidak, gambar akan tampak bergetar atau berbayang. 

(Kalau tidak percaya, coba tonton beberapa program TV di beberapa stasiun televisi! Masih banyak tayangan yang seperti ini. Heran.. kenapa lolos QC? )


Untuk kamu yang kerja di TV.. ini rumusnya! Semua format video yang memiliki mode interlaced adalah Upper, kecuali DV. Yap, DV PAL pasti selalu lower. Selainnya adalah Upper. Bahkan di software converter MPEG Streamclip ada peringatannya.

mpeg streamclip field dominance

Format-format Video yang Memiliki Interlaced
Ingat.. format video bukan sekedar menetukan file: mp4, mov, avi, dan sejenisnya. Tapi yang dimaksud format video adalah karakteristik apa saja yang ada dalam video, seperti codec, frame rate, frame size, dll. Termasuk apakah video itu memiliki interlace atau tidak. (Bagi yang tidak paham format, sebaiknya baca dulu artikel Tentang Codec)

Mengetahui format yang benar penting ketika melakukan setting kamera, setting project di software editing, dan setting di software converter. Cara mengetahui interlaced dan progressive dalam format video gampang! Kalau ada huruf ‘i’ itu artinya interlaced. Sedangkan ‘p’ adalah progressive. Seperti dalam format HD.. 1080i adalah interlaced, sedangkan 1080p adalah progressive.

Interlace progressive sestting

pmw format
Kamu harus tahu juga bahwa semua format yang ada dalam kategori MPEG-4 seperti h.264 adalah progressive. Sedangkan semua format yang ada dalam kategori MPEG-2 bisa interlaced bisa progressive. (kalau kamu belum paham MPEG-2 dan MPEG-4, baca lagi artikel Tentang Codec)

Foto, Gambar, dan Grafis Dalam Interlaced
Video progressive (tidak ber-interlaced), tidak akan menimbulkan masalah ketika digunakan dalam sequence editing interlaced. Tapi gambar diam (foto, logo, grafis, dll) lain cerita. Hati-hati! Gambar itu kemungkinan akan tampak bergetar atau flicker kalau kamu menggerakkannya di software editing.

(Ingat.. getaran ini tidak akan tampak di monitor komputer. Kamu harus melihatnya di TV)

Itu terjadi karena gambar hanya terdiri dari satu frame (dan sudah pasti progressive). Software editing tidak terlalu baik dalam ‘menggerakan’ gambar yang pada dasarnya diam. Karena dari frame ke frame, objeknya tidak berubah sama sekali (kecuali hanya posisinya saja ketika digerakkan oleh keyframe). Sementara dalam mode interlaced, field 1 dan field 2 saling bersusulan. Maka akan tampak seolah-olah gambar itu maju mundur (bergetar).

Ada beberapa teknik untuk menghindarinya:

  1. Kalau gambar itu Kamu buat di Photoshop, Illustrator, dan sejenisnya.. berikan filter De-Interlace sebelum digunakan di software editing.
  2. Atau Kamu juga bisa memberikan filter De-Interlace pada gambar itu di software editing.
  3. Kalau kamu mau menggerakkan gambar-gambar itu (termasuk teks) supaya halus, sebaiknya gerakkan di After Effects, setelah itu kamu bisa menggunakannya di software editing.


Filter De-Interlace di Photoshop
Filter De-Interlace di FCP 7
Untuk Premiere, Kamu bisa memberikan De-Interlace dengan cara meng-klik kanan klip yang ada di timeline, lalu pilih Field Option dan pilih Always Deinterlace.

De-Interlace di Premiere

Kesimpulannya
Interlaced dan Progressive bukanlah persoalan sepele. Terutama buat Kamu yang memproduksi tayangan untuk TV (TV Commercial, program TV, Videoklip, dll).

Catat selalu:

  1. TV selalu dibroadcast dalam mode intelace (setidaknya sebelum TV Digital resmi digunakan)
  2. Video ber-interlaced akan tampak bergaris di monitor komputer, tapi normal di TV
  3. Untuk selain tayang di TV, gunakan progressive
  4. Pastikan setting Upper dan Lower benar untuk sequence interlaced
  5. Foto, logo, grafis.. pastikan diberi filter De-Interlace sebelum digunakan di sequence interlaced
  6. Kalau artikel ini belum cukup menjelaskan.. kunjungi situs ini yang membedah seluk beluk interlaced
Sebelum kami memposting  ulang tulisan ini, kami menelaah sejauh mana tulisan dari www.rumaheditor.com ini ditulis. Sebelum itu kami mohon ijin berbagi tulisan ini kepada komunitas blogger kami, sebagai bentuk berbagi pengetahuan yang cukup penting. Terima kasih sebelumnya kami ucapkan. Salam


Sumber : http://rumaheditor.com/interlace-progressive/
AUTHOR: DANI NURDIMAN | March 12, 2016
#Editing Video Broadcast Film LITERASI MEDIA Multimedia TIPS&TRIK VIDEO

Tuesday, 21 February 2017

PERALATAN BROADCAST TV – JENIS CONSUMER EQUIPMENT


Jenis peralatan ini sebenarnya mudah ditemui dan banyak jenisnya, sebagian malah memanjakan penggunanya karena fitur yang diberikan serba otomatis. Equipment broadcast tv jenis ini pula bukan didesain untuk keperluan sehari-hari dengan kecenderungan pengguna kalangan pe-hobby, Mempunyai ciri-ciri:
1. Kebanyakan penggunanya adalah kalangan pe-hobby dan keluarga
2. Fitur yang disediakan dari equipment ini adalah serba otomatis (full automatic)
3. Harga relatif lebih murah
4. Tidak tahan banting dan cenderung lebih ringkih (cepat rusak)
5. Mempunyai resolusi gambar yang rendah masih SD-SDTV (Standard – Definition Television), walaupun sekarang sudah banyak yang sudah HD-Full HD.


Seiring waktu berkembangnya teknologi hari ini, kecenderungan resolusi gambar yang dihasilkan juga lebih baik. Bahkan beberapa peralatan broadcast kelas consumer sudah mempunyai resolusi HD, yang membedakan signifikan adalah sistem operasi yang ditanamkan pada alat tersebut. Karena hampir semua peralatan broadcast tv standar consumer pasti cenderung serba otomatis.


Contoh peralatan kelas Consumer apa saja ya?
Sulit saya menjawab pertanyaan ini, karena misal saya contohkan Handycam. Keluaran Handycam jenis baru hari ini bahkan ada yang sudah manual sistem fitur yang ditanamkan, dengan harga lebih mahal tentunya. Yang membedakan peralatan broadcast jenis consumer, prosumer, dan professional hanyalah standar harga yang ditawarkan dari yang paling murah, sedang hingga yang paling mahal. Jika kamu ingin mendapatkan peralatan broadcast kelas consumer cirinya pasti harga relatif lebih murah seperti yang sudah saya sebutkan di antara ciri-ciri tersebut di atas.


Apakah smartphone termasuk peralatan broadcast tv? 
Saya jawab “iya”, hampir semua smartphone hari ini telah mempunyai resolusi gambar yang cukup baik. Beberapa konten siaran televisi sudah berani menggunakan smartphone, jadi jangan kaget bila hari ini banyak penggarap produksi konten hanya menggunakan kamera kecil seperti smartphone. Meskipun demikian ini bukan menjadi standar profesional dalam dunia broadcast tv. Nah makanya smartphone bisa dikategorikan menjadi jenis peralatan broadcast tv jenis consumer karena semua fiturnya yang serba otomatis.

Oleh : Anton Mabruri – Praktisi Broadcast, Filmmaker, dan Penulis 
Like Me Anton Mabruri KN 
Follow Me Anton Mabruri KN
Broadcast TIPS&TRIK VIDEO

Sunday, 19 February 2017

MULTIMEDIA COURSE


PROGRAM MULTIMEDIA COURSE
MULTIMEDIA MAKERS – BEGINNER CLASS
2 (Dua) Bulan 20 (+5) kali pertemuan
Overview: Program ini memberikan pemahaman bidang Multimedia Dasar s.d Keahlian Madya (Beginner). Peserta diajarkan tahapan-tahapan membuat suatu design Multimedian pada contoh kasus yang ada, dan praktik.


MULTIMEDIA MAKERS – INTERMEDIATE CLASS
3 (Tiga) Bulan 25 (+5) kali pertemuan
Overview: Program ini memberikan pemahaman pada Multimedia Dasar s.d Tingkat Mahir (Intermediate). Peserta diajarkan tahapan-tahapan dan jenis-jenis [kompleksitas] Multimedia dengan menghasilkan karya mulai dari pembuatan logo, corprate identity, dan media cetak dan digital. Menggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi di dunia hiburan, dan juga dunia game.

Jenis Kursus
Animasi
Motion Graphic
Fotografi

BIAYA KURSUS klik di sini
AMBIL KURSUS PAKET LEBIH HEMAT
Info Pendaftaran:
Mind 8 Course
Ruko Tran Depok Cyber Village No. 26
Jl. Kalimulya Depok Jawa Barat (500M dari GDC - Grand Depok City atau 1,5 Km dari Kantor Walikota Depok)
Telpon 021 2950 2660 [Contact & WA: 0878 8997 8001]
e mail : mind8course@gmail.com
web : www.mind8production.com
Follow me @mindpro
Like FB Mind 8 corporation
DESIGN KURSUS Multimedia

 

Kami adalah Lembaga yang bergerak (concern) di bidang Broadcast TV, Film/Video Production dan Multimedia yang telah berdiri sejak tahun 2005:

  • Don't miss new post & info

    Subscribe here to get our newsletter in your inbox, it is safe and EASY!

    Copyright © MIND 8 PRO™ is a registered trademark.
    Blogger Templates Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.